Selasa, 14 Mei 2013

Sebelum Kastana


Sebelum menulis ini, saya baru saja menyelesaikan sebuah buku karya Soleh Solihun. Sang penulis merupakan salah satu jurnalis musik terbaik yang dimiliki negeri ini, sayangnya kini ia tak lagi menulis. Soleh melahirkan karya “otobiografis populer” yang ia beri judul Kastana. Ceritanya tentang Kif Kastana, alter ego Soleh Solihun, dalam menaklukkan kota Jakarta dengan profesinya sebagai penulis.

Mengikuti perjalanan Kif Kastana alias Soleh Solihun di buku ini seperti mencari ujung jalan sebuah proses penulisan. Kif telah malang melintang di dunia penulisan, bermula dari sebuah majalah franchise musik, majalah pria dewasa, hampir pindah ke majalah islami, dan berlabuh di majalah yang terletak di kawasan Ampera, sebuah majalah yang dalam bahasanya adalah mimpi bagi para pecandu musik yang senang menulis. Setelah menjalani mimpi itu, Kif menarik diri, ia memilih profesi lain yang sedikit jauh dari kerja berbasis tulisan.

Ada satu catatan menarik dari buku tersebut, ia memulainya dari hal sederhana. Dari menulis tugas mata kuliah yang dosennya killer, juga menulis blog. Menulis tugas mata kuliah membuatnya paham bagaimana cara menulis yang benar. Menulis blog sempat mengantarkannya ke London menyaksikan Maroon 5 untuk advertorial minuman ringan. Saya tidak akan menarik premis bahwa menulis blog bisa mengantarkanmu ke London dan mencapai puncak kesuksesan, tidak. Saya menarik cerita Kif eh Soleh Solihun jauh ke belakang.

Soleh Solihun dalam laman blog multiplynya pernah menulis sebuah hal yang menurut saya simpel tapi menarik. Ia mengkategorikan penulis blog dalam tiga fase penting.

Fase pertama adalah ketika penulis blog tersebut menulis untuk dirinya sendiri. Di fase ini penulis blog tidak peduli apakah ada orang yang suka atau tidak, yang penting ia menulis dan menulis, perasaan lega biasanya yang dicari di fase ini. Fase kedua adalah fase ketika penulis blog mulai memikirkan apa kata pembaca. Biasanya hal ini disebabkan oleh mulai banyaknya follower blog tersebut. Percayalah, ketika follower blog menyentuh angka taruhlah lebih dari seratus maka ada perasaan ingin memuaskan para pengikut tersebut. Ada perasaan, mana tulisan yang disenangi oleh pengikut maupun yang tidak disenangi. Fase ketiga hadir ketika blog telah memberi profit (biasanya material) ke penulisnya. Misalnya ada pesanan tulisan advertorial dari sebuah produk atau bentuk-bentuk promosi lainnya. Tentu hal ini disebabkan karena penulis blog tersebut sudah memiliki banyak pengikut dan pengaruh besar di kelompoknya. Kif Kastana alias Soleh Solihun sudah melewati tiga fase tersebut.

Dua tahun lalu, beberapa rekan di Komunikasi UGM membuat program #31HariMenulis. Ini merupakan sebuah proyek adopsi dari apa yang pernah dilakukan beberapa rekan lain di blog multiply. Konsepnya sederhana, setiap orang yang berkomitmen ikut akan diminta menulis maraton selama 31 hari. Yang gagal menuntaskan tugas tersebut maka akan dikenakan denda untuk kelalaiannya. Denda tersebut akan diakumulasi dan menjadi hadiah bagi seorang pemenang yang terpilih.

Kini, hajatan itu kembali hadir. Katanya, sudah hampir 50 orang yang mendaftar. Semua ikut bergabung dengan sukarela, tanpa tahu mereka bisa saja kena denda banyak, mereka bisa saja kurang tidur karena harus menulis setiap malam. Yang tergambar dari itu adalah semangat untuk merayakan aktifitas menulis.

Meminjam kategori yang dibuat oleh Soleh Solihun, semua peserta #31HariMenulis sedang kembali ke fase pertama. Mereka sedang mencoba untuk membicarakan kembali apa yang ingin dibicarakan lewat blog masing-masing. Tanpa ada tendensi untuk memuaskan pembaca, tanpa ada tendensi berubah status menjadi seleb blogger yang lebih ribet mengurus gimmick daripada konten tulisan itu sendiri.

Program #31HariMenulis adalah sebuah upaya untuk kembali bertanya mengenai fase awal itu. Bertanya mengapa kita menulis blog, bertanya mengapa kita rela berbagi bersama lewat medium tulisan, dan bertanya apakah kita sanggup untuk menyelesaikan maraton tulisan ini.

Saya kembali mengingat kisah Kif Kastana, ia menulis blog tanpa tendensi apa-apa. Ia menulis blog awalnya sekadar untuk berbagi. Namun siapa sangka kini ia berhasil dalam istilahnya menaklukkan Jakarta! Kisah Kif bisa jadi pesan klise motivator untuk melihat kesuksesan penulis blog.

Nyatanya Kif Kastana tak sukses lewat blog. Ia sukses karena ia senang menulis. ia mencintai proses penulisan, terlihat sekali dari tulisannya yang jujur dan ciamik. Bagi saya Kif tetaplah penulis blog di fase pertama, ia tetap menjadi dirinya sendiri. Itu yang membuatnya begitu spesial.

Dua tahun lalu #31HariMenulis dibuat dengan semangat yang sederhana. Layaknya Kif memulai semuanya. Di tahun ketiga, program ini kembali mengajak kita merayakan hal simpel itu, kembali ke fase pertama. Kembali menulis karena kita menyenangi prosesnya, sesederhana itu.


***

Selamat mengikuti #31HariMenulis tahun ketiga. Saya pamit tidak ikut di tahun ini, karena banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Apresiasi juga untuk para panitia tahun ini. Semoga sukses menjalani #31HariMenulis. Lebih lanjut mengenai siapa saja peserta #31HariMenulis dapat menengok laman berikut ini  :)


Minggu, 05 Mei 2013

Tabung-Tabung Tak Bernada


Mbak Wening, seorang rekan jurnalis pernah mengirimi saya kartu pos sederhana dari Nashville, Tennessee, Amerika. Gambar depan kartu pos itu kumpulan beberapa objek dalam satu frame, ada gambar gedung, jalanan, mobil, gitar spanyol dan mandolin dengan empat senar. Tentu tak ketinggalan tulisan Nashville, sebagai penanda darimana kartu pos itu berasal. Tapi bukan gambarnya yang membuat saya tersenyum, isi pesannya yang hanya ditulis dengan pulpen bertinta hitamlah yang membuat kartu ini istimewa.

Jurnalis majalah musik ini menulis, “Kota ini seperti bernafas dengan musik. Di bagian-bagian paling ramainya di malam hari, musik menemani langkah kita, mengalir keluar dari bar atau toko musik yang masih menjual CD atau plat. Plang-plang bar dengan warna meriah seperti berjanji akan penghiburan”. Saya ingat ekspresi pertama saat membaca itu, bergidik. Ia menggambarkan kota itu dengan sangat baik.

Pikiran saya langsung terbang ke scene dalam My Blueberry Nights. Ketika temaram lampu ditangkap lensa dalam diafragma yang terlalu kecil. Cahaya menjadi sebentuk prisma yang merona. Lalu suara tipikal Norah muncul di sana. Untaian kata sederhana itu melayangkan pikiran saya ke sketsa macam itu. 

***

Tabung itu memiliki beragam nama. Kita menyebutnya dengan Transjakarta atau lain waktu Commuterline. Tabung itu mengantarkan kita ke rumah. Dalam perjalanan itu kita gelisah akan kehangatan rumah. Gelisah akan ekspresi bagaimana keluarga menyambut. Dalam kegelisahan itu kita memilih ruang privat.

Ruang itu hadir dalam earphone yang terpasang di telinga. Coba lihat Transjakarta atau Commuterline, maka kita akan melihat parade earphone yang menciptakan ruang privat untuk setiap orang. Kita tak tahu apa yang diputar lelaki berkemeja necis di belakang, mahasiswa yang sedang menjinjing tas laptop di belakang supir, atau perempuan dengan blazer biru tua di sebelah kanan. Musik menjadi sebuah misteri masing-masing. Ia hidup dalam ruang privat masing-masing. Mengisolasi dunia di sekitar.

***

Nama pulau itu sederhana, Kawio. Ia terletak di sebelah utara negeri ini. Berdekatan dengan Miangas, berbatasan dengan Philipina. Menyusuri jalannya adalah menyusuri tabung terbuka yang sangat berbeda dengan Transjakarta atau Commuterline. Jalanannya lurus, cenderung statis malah. Tapi ada satu yang tak statis di sana.

Kebanyakan rumah di sana memasang salon atau speaker pasif di depan rumah. Ada yang memasang satu salon besar, dua, tiga atau bahkan empat sekaligus. Awalnya saya kira ini guyonan yang tak lucu, nyatanya salon ini membalikkan persepsi saya soal earphone yang berceceran di tabung bernama Transjakarta.

Kawio belum memiliki saluran listrik. Sumber listrik hanyalah genset di masing-masing rumah yang menyala dari pukul 19.00 sampai sekitar 22.00 WITA. Namun, untuk musik mereka punya pengecualian. Sering kali di siang hari mereka menyalakan musik, yang juga berarti menyalakan genset, dan menyiarkannya lewat salon di depan rumah.

“Asyik Kak bisa bergoyang,” ujar Eben, salah satu anak di pulau itu menanggapi musik yang terpasang di siang hari. Sebuah rumah di depan sekolah misalnya memiliki empat buah salon besar di halaman yang bisa saja menyala di siang hari dan membuat jalanan yang statis menjadi dinamis. Salon-salon pasif itu menciptakan sebuah retorika tersendiri dalam mengajak orang untuk bergoyang. Untuk terlibat menjadi sebuah kerumunan tersendiri. Untuk menikmati musik bersama-sama. Tak ada ruang privat dalam tabung yang diciptakan earphone. Salon itu meruntuhkan dinding bernama privat, ia mengajak, ia begitu terbuka. Dalam keterbukaan ada keramahan yang terpancar di dalamnya. Salon itu seperti berucap kita kerumunan yang sama, kita menjadi satu. Dan tabung itu hancur lebur dalam tatanan bentukan salon.

***

Nashville, Jakarta dan Kawio boleh jadi punya cara masing-masing menangkap nada. Boleh jadi dalam tarik menarik ini tidak ada yang benar atau salah. Pada bagaimana mereka menangkap alunan nada, kita dapat melihat wajah-wajah asing di ketiganya.

Nashville hanya saya kenal lewat untaian kata Mbak Wening yang mengingatkan saya pada alunan Norah di My Blueberry Nights. Atau Jakarta yang penuh dengan menciptakan ruang-ruang pribadi di tabung yang sangat tidak pribadi, ayolah siapa yang suka berdesak-desakkan di Transjakarta. Dan Kawio, pulau kecil yang tahu bagaimana cara menciptakan sesuatu yang dinamis dari alat yang pasif, salon menghadirkan kenyataan menjadi sebuah komunitas di sana.

Saya sendiri menikmati ketiganya, menikmati bagaimana Nashville menjadi mitos di kepala. Menikmati alien-alien Jakartaensis yang bahkan takut memulai interaksi dengan cara paling sederhana, melepas tutup kuping di telinganya. Pun menikmati bagaimana balutan musik disko yang kitsch di Kawio menjadi begitu dinamis di tengah statisnya pulau ini. Merasakan ketiganya terasa begitu aneh, asing. Pada ketiganya saya tahu ada banyak cara menciptakan ruang pribadi. Juga banyak cara untuk meruntuhkannya. Atau kalau kurang puas, mungkin meledeknya dengan cara sederhana. Bisa dimulai dengan mengajak perempuan berblazer biru tua di sebelah kanan transjakarta membuka earphone dan memulai interaksi dengannya. 


Kamis, 02 Mei 2013

Di Lasem, Di Beeng


Ada ketimpangan besar penciptaan mitos di keluarga saya. Sejak kecil saya atau lebih tepatnya kami, untuk merujuk pada saya dan kedua kakak saya, dibesarkan dalam kacamata keluarga ibu. Saudara bagi kami merujuk pada keluarga batih ibu. Lebaran pergi ke sana, ziarah pergi ke sana, vakansi pergi ke sana. “Sana” merujuk pada Solo, kota kelahiran ibu saya.

Sementara keluarga Bapak seperti liyan yang tak pernah kami jamah. Ia tampak begitu jauh. Ia dipenuhi stereotip. Kami jarang menginap di sana, kami malas-malasan ketika hendak berlebaran di sana, kami begitu datar ketika ada kabar nun jauh di sana. Sana berarti Lasem, kota kelahiran bapak saya.

Saya pribadi sebagai anak bontot, paling malas pergi ke Lasem. Ia seperti ditempeli oleh beragam stempel. Kotanya sepi, tak ada hiburan, omongannya kasar. Untuk yang terakhir jelas karena Lasem dekat dengan tradisi Jawa Timuran daripada Jawa Tengah yang secara dialek lebih halus. Ia tumbuh sebagai sebuah mitos yang jauh, asing.

Beranjak dewasa saya tahu bahwa Lasem adalah salah satu destinasi menarik bagi mereka yang suka berjalan. Sejarahnya, mitos-mitos kota ini dan banyak hal lainnya. Ketika bapak sakit, saya pernah membatin akan pergi ke Lasem entah untuk apa, mungkin untuk bermaafan dengan keluarganya. Saya menelan ludah jika mengingat hal itu. Perjalanan itu bukan meruntuhkan mitos, ia bisa jadi justru menguatkan mitos tentang kota itu, tentang keluarga bapak secara lebih tegak.

Saya kemudian belajar menerima keluarga bapak pelan-pelan. Dalam pernikahan kakak kandung saya, beberapa keluarga batih bapak datang. Saya mengajak berbicara kakak kandung Bapak yang tertua. Ia merantau ke Bangka, bercerita mengenai Bangka Belitung paska Laskar Pelangi. Semua orang seperti ingin pergi ke sana, tuturnya. Padahal, menurutnya negeri itu biasa saja. Ia memakai kacamata orang lokal untuk melihat sebuah destinasi. Saya hanya tersenyum mendengar apa yang ia utarakan.

Ternyata keluarga bapak tidak seperti yang distempelkan. Mereka ramah, terbuka dan memiliki pengalaman yang luas. Mereka para perantau yang tersebar jauh ke tempat-tempat luas. Bapak sendiri sudah tidak berada di Lasem ketika menginjak sekolah menengah kejuruan, ia hijrah ke Magelang, ke tanah harapan versinya. Untuk kemudian berlabuh di ibukota.

Saya menarik diri ke belakang. Saya hidup dalam satu perspektif tunggal. Saya sering mengutip, “Ibu bilang” “Kata ibu” Kalau menurut ibu”. Tapi saya kehilangan perspektif lain, saya kehilangan perspektif bapak. Saya kehilangan sentuhan kacamata lain dalam memandang sebuah masalah. Ia berimplikasi pada sebuah hal, saya selalu memandang segala sesuatu dari satu sudut pandang. Saya tak bisa memadang segala sesuatu dalam kacamata yang begitu biasa, begitu sederhana.

Boleh jadi banyak dari kita hidup dari “kata ibu” dan “menurut ibu”. Media kita adalah ibu yang selalu berucap dan punya perspektifnya sendiri. Ibukota adalah “kata ibu” dalam perspektif yang lain. Ia laksana mata utama negeri ini. Kita hidup dalam kacamatanya. Kita melupakan perspektif lain, melupakan bapak yang merantau jauh ke banyak tempat. Kita hidup dalam kacamata yang seragam, dan memandang yang lain penuh eksotisme.

Saat mengetik ini saya berada di tepi pantai Beeng Darat, sebuah pulau kecil di Sulawesi Utara berbatasan dengan Philipina. Beberapa hari sebelum di sini, saya mengirim surat elektronik ke atasan saya, isinya bertanya apakah ia butuh tulisan mengenai sebuah lokasi perbatasan. Mengenai sebuah lokasi, yang untuk membuatnya seakan dipandang begitu biasa, kita ganti dengan sebutan pulau terdepan. Tapi apakah itu telah membuatnya menjadi begitu biasa?

Saya didampingi beberapa rekan kerja ke pulau ini untuk sebuah tugas. Matahari terbenam, pulau yang begitu kecil, pasir putih, dan beragam gimmick lain yang membuatnya terasa begitu eksotis. Beberapa kali mengabadikannya dalam “kacamata ibu”, ibukota yang eksotis.

Menulis ini boleh jadi adalah bentuk eksotisme lain. Saya menulisnya dengan tipikal Jakarta. Menulisnya di tepi pantai, sambil mendengarkan ipod dengan lagu mendayu yang direview majalah ibukota dengan angka ciamik.

Seorang rekan saya yang kini bekerja mapan berkata ingin meninggalkan pekerjaannya untuk membangun rumah di tepi pantai. Ia sudah bulat-bulat merencanakan ini. Ia ingin pergi dari kepenatan ibukota. Dan ya pantai, eksotisme itu tujuannya.

Sementara induk semang yang menerima saya di pulau ini dan pulau lain sebelum saya singgah di sini selalu bercerita tentang Jakarta. Tentang berapa kali ia pergi ke ibukota. Fotonya sedang berlagak di ibukota ditempel di dinding rumahnya. “I Was There” mungkin itu yang ingin diungkapkan foto itu. Dan ya rekan-rekan saya di sini beberapa kali meminta difotokan di tempat nan eksotis ini. Kita saling mengeksotiskan tempat lain. Kita adalah korban “kata ibu” yang berbeda-beda.

Saya teringat obrolan dengan Bapak. Ia tak bercerita tentang pantai Lasem atau wisata budaya di sana. Yang ia ceritakan adalah bagaimana Gus Mus di sana membangun pesantren. Bapak bilang di Lasem orang begitu rukun, pesantren di sana ramah-ramah. Saya mulai menyesal tak sedari dulu memandang kota itu dalam kacamata yang biasa. Sore itu, setelah kami bercerita, bapak undur diri. Ia memakai sarungnya, menggelar sajadah, ia pamit sholat maghrib.

Sudah lama bapak menjadi abangan. Sore itu saat saya memandangnya secara biasa saja, saya justru disuguhi hal yang tak biasa. Ia sholat dan pamit berencana pergi haji. Pada perbincangan yang biasa saja saya menemui sosoknya yang tak biasa. Saya menemui ruang pribadinya yang jarang saya lihat. Mungkin hanya dengan memandang secara biasa kita bisa bercerita lebih banyak. Tentang bapak, tentang pantai yang mengingatkan saya padanya. 


*Untuk Bapak, semoga bisa terus pulih dan menginjakkan kaki di tanah suci. 

Minggu, 07 April 2013

Yam Ayam


Kamis lalu, ibu saya sedikit bingung di depan televisi. “Oalah hari ini ngaji tho,” ujarnya sesaat setelah menyaksikan rekan-rekan pengajiannya berjalan di gang depan rumah. Setiap Malam Jumat, daerah di rumah saya memang mengadakan pengajian ibu-ibu. Ibu saya termasuk yang kerap datang meski tidak setiap minggu menampakkan wajahnya di forum tersebut.

“Sekarang pengajian sepi Wil, paling cuma ada 8 orang, Ibu Sodikoh udah enggak di sini soalnya,” bukanya pada saya. Ibu Sodikoh adalah pemimpin pengajian yang berprofesi sebagai guru agama. Dulu saat duduk di bangku sekolah menengah ia adalah guru agama saya. Rumahnya sangat dekat dengan kediaman kami. Kini, ia pindah ke Palembang, mengikuti anaknya yang bekerja di sana. Ibarat organisasi tanpa ketua, forum pengajian ini menjadi sepi. 

Sejak saya kecil Ibu Sodikoh sudah memimpin forum tersebut. Dulu, almarhum suaminya bernama Pak Rahman juga memimpin forum serupa untuk bapak-bapak. Pak Rahman berprofesi sebagai guru ngaji bagi para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang. Saya ingat dalam sebuah momen ia berkata pada saya yang masih kecil, “Buat apa ngajarin ngaji ke orang yang udah taat, kasihan itu narapidana enggak ada yang ngajarin ngaji,” ujarnya. Dulu saya tidak memahami kalimatnya, kini saya hanya bisa tersenyum saat mengingatnya. Malam itu kami kehilangan dua sosok tersebut, mereka hijrah.

Katanya perpindahan adalah sebuah indokator penting perubahan. Kanjeng Nabi melakukan hijrah, ia berpindah menuju Tanah Harapan baru. Mungkin, hal itu benar adanya. Setiap dari kita pasti akan berpindah, menuju tanah harapannya masing-masing. Kita kemudian baru akan menyadarinya ketika telah berpindah, keberadaan kita boleh jadi justru terlihat ketika kita sudah tak terlihat. Tapi, esoknya saya digelitik oleh satu hal kecil.

Kawasan rumah saya adalah perumahan padat penduduk. Setiap pedagang bebas berlalu lalang di depan rumah. Ketoprak, bakso, sol sepatu sampai pedagang sandal bisa mondar mandir dalam sehari. Pagi itu, saya mengenal suara itu lagi, “Yam Ayam, Ayamnya Bu,” ujar wanita paruh baya itu dengan intonasi naik turun.

Kami memanggil penjual ayam tersebut dengan sebutan “Yuk” dengan pelafalan huruf “K” yang menurun di bagian akhir, pengucapannya seperti sebuah ajakan. Sejak kecil Si Yuk ini sudah berdagang ayam potong. Ia sudah membumbui ayamnya dengan racikan bumbu buatannya. Ayamnya akan menjadi berwarna kuning, dan pelanggan tinggal menggorengnya, ia memudahkan proses memasak. Mungkin karena alasan itu dagangannya lumayan laris.

Saya bertanya pada ibu saya, “Itu Yuk yang dulu, apa beda orang Bu?”. Ibu saya menganggukkan kepala sebagai ganti jawaban bahwa itu adalah Yuk yang dulu. Ia kemudian menambahkan, “Tukang otak-otak sama cakue juga masih sama kok Wil, ketoprak topi menir juga masih yang dulu,” jelasnya. Saya membayar penjelasannya dengan anggukan kecil.

Sepanjang hari itu, saya mencorongkan daun telinga dan memasang mata saya ke luar rumah. Tentu untuk membuktikan apakah para pedagang itu masih sama seperti yang dulu. Nyatanya, apa yang dikatakan ibu benar, semuanya masih sama. Mereka juga masih mengenali saya, ada perasaan aneh ketika kembali menyapa mereka yang kini sudah berlipat umurnya, terhitung saat saya membeli panganannya ketika kecil. Mereka tetap sosok yang sama, tapi pada sosok yang sama dan tetap itu saya justru merasakan perubahan yang begitu besar.

Seno Gumira pernah menulis perihal tukang-tukang di depan gang ini. Ia mengamati bagaimana tukang Buntil menyuarakan dagangannya. Pencipta Sukab ini menulis, “Kreasi tukang buntil pun sama nilainya dengan komposisi kelas dunia: bahwa manusia menyampaikan sesuatu kepada dunia, sehingga dunia ini menjadi cukup bermakna bagi manusia yang hidup di dalamnya”. Pada tulisan itu pula, Seno menulis bahwa mungkin hanya orang yang kena PHK yang bisa benar-benar memperhatikan suara-suara tukang dagang di gang-gang sempit.

Menarik apa yang ditulis Sukab eh Seno. Perihal kecil ini boleh jadi memang jarang dilihat oleh orang. Sehingga mereka terasa seperti tak ada, anonim, mereka yang tak berubah.

Perasaan berubah pada diri sendiri kadang memang ditentukan oleh yang meninggalkan daripada tetap. Ibu misalnya merasa perubahan terjadi ketika Ibu Sodikoh hijrah. Sementara saya, justru menempelkan perubahan pada sosok yang tetap. sosok yang tetap namun sebenarnya berubah.

Sekali lagi saya jadi ingat bagaimana Umar Kayam mengilustrasikan perubahan dan sistem yang ajeg. Ia sering memakai dialog antara Pak Ageng dan Mas Joyoboyo. Nama terakhir adalah pedagang ayam yang rutin dibeli Pak Ageng. Mas Joyoboyo adalah pribadi yang konvensional. Pak Ageng sering berbicara perihal sistem ekonomi Keynes padanya. Biasanya si pedagang ayam ini bisa membalas teori dengan argumen sederhana yang mantap. Alhasil Pak Ageng hanya bisa diam seribu bahasa, ia kembali pada kehidupan kesehariaannya, melepaskan seragam intelektualitasnya.

Saya membayangkan bila Yuk, Pedagang Buntil dan Joyoboyo bertemu dalam sebuah forum. Tiga orang yang rutin melakukan itu-itu saja, tidak hijrah dan tetap dengan pemikiran sederhananya. Kita mungkin akan bingung, mengapa mereka masih bisa bertahan. Sementara, kita pontang-panting, hijrah sana-sini. Namun, saat bertemu mereka, kita menelan ludah, menemui fakta miris, perubahan boleh jadi terjadi hanya di pikiran, saat kita merelasikan hidup kita dengan yang tetap. Sementara yang tetap hanya akan meledek kita dengan panggilan, “Yam Ayam”.