Sabtu, 19 Mei 2012

Some Day We Will Understand



Satu-satunya hal yang tidak saya setujui dari Avianti Armand adalah pendapatnya soal hati. Arsitek cum penulis ini punya pendapat yang menurut saya kurang tepat soal hati manusia. Ia pernah menulis, saya lupa kalimat tepatnya seperti apa, “Hikmah dari hati yang kosong adalah ia dapat diisi kembali”. Saya sama sekali tak setuju dengan hal itu.

Hati bukan sebuah gelas yang dapat diisi ulang begitu saja. Tak ada ukuran sok filosofis setengah kosong atau setengah isi di hati. Untuk hati pilihannya hanya dua, terisi penuh atau kosong sama sekali. Mengisi ulang memang bisa dilakukan namun ia bukan sebuah hikmah dari kekosongan melainkan hal yang sangat berbeda.

Saat memberanikan diri ikut menulis “Destinasi Terbaik Untuk Move On” saya langsung teringat dengan tulisan Avianti tersebut. Belajar dari pengalaman dan kesalahan yang pernah saya lakukan, “move on” bukan sebuah proses mengisi ulang sebuah hati. Ia adalah proses mengosongkan hati. Jelasnya mengosongkan sampai hampa. Maka destinasi terbaik untuk move on adalah tempat yang dapat mengosongkan hati sampai hampa. Sampai kita merasa so called cinta adalah sebuah tai kucing garapan sutradara kacangan.

Namun hal ini jelas sulit dilakukan, sebab melancong atau bepergian sejatinya adalah untuk menambah pengalaman hidup. Menambah pengalaman sifatnya mengisi sementara untuk move on dibutuhkan sebuah usaha mengurangi, jelas tak mungkin menyambungkan kedua hal ini. Bagi saya mungkin saja. Sayangnya hanya satu tempat yang bisa melakukan itu.


Hifatlobrain (blog perjalanan yang aduhai) sebenarnya meminta setiap orang menuliskan dua tempat destinasi untuk move on. Maaf sekali saya hanya bisa menuliskan satu tempat. Karena hanya tempat itulah yang bisa mengosongkan hati sampai sangat kering. Bukan hanya tak lagi mengenal cinta, tapi anda bisa malas hidup dibuatnya.

Satu-satunya destinasi terbaik untuk move on bagi saya adalah kuburan. Bukan kuburan sembarangan, ada satu kuburan yang membuat saya berjanji akan kembali ke sana lagi bersama istri saya kelak, entah siapa. Kuburan atau lebih tepat disebut pemakaman itu bernama Labuan War Cemetery.

***


Sebuah salib terukir rapi di papan nisan atas nama B. Dowie. Dalam keterangan di nisan itu dapat diketahui Bowie meninggal pada 15 Desember 1945. Umurnya ketika meninggal masih sangat muda, 21 tahun. Entah atas alasan apa ia ikut berperang yang jelas ia menemui keabadian di usia yang begitu belia. Di bawah papan nisan tersebut tertulis, “Some Day We Will Understand”. Saya dibuat penasaran dengan maksud tulisan tersebut, mungkin saya belum sampai pada masa “some day” sehingga belum mengerti maksudnya.

Saya melihat papan nisan Bowie tepat sekitar dua bulan setelah saya putus. Masa yang sangat sulit dan begitu labil bagi saya. Meski sempat dalam istilah Avianti ada yang mengisi namun saya belum benar-benar mengosongkan hati saya. Labil dan kuburan adalah perpaduan paling pas untuk bunuh diri. Untungnya seperti kata Brilliant at Breakfast, “Nobody ever died of a broken heart” tentu saya tak bunuh diri karena dua hal itu.
Nisan B.Dowie, "Some Day We Will Understand".

Nisan B.Dowie adalah satu dari 3908 papan nisan di Labuan War Cemetery atau oleh orang lokal disebut Tanah Pekuburan Perang Labuan. Pekuburan ini terletak di Pulau Labuan, sebuah pulau kecil yang berada dalam teritori Malaysia Timur. Pulau ini sebenarnya merupakan gugusan beberapa pulau yang terletak diantara Brunei, Sarawak (Malaysia) dan Kalimantan. Andai tak memiliki situs diving yang terkenal boleh jadi pulau ini dilupakan begitu saja.

Awalnya saya bersama tiga orang teman hanya iseng pergi ke Pulau Labuan. Lantas perjalanan membawa kami ke pemakaman ini. Sebuah pemakaman efek dari Perang Dunia II. Saat itu Jepang ingin menguasai Kalimantan, namun kawasan ini sedang dikuasai Inggris. Konflik kepentingan ini menyebabkan peperangan pasukan perserikatan Inggris dengan Jepang. Peperangan ini dikenal dengan “Battle of Borneo” yang terjadi pada 1941-1942. Labuan War Cemetery berisi korban perang dari pihak persemakmuran Inggris pada perang tersebut.

Mendatangi pemakaman ini pada saat sakit hati adalah keputusan tepat buat saya. Manusia suka membandingkan, maka perbandingan paling mudah yang terjadi adalah, “Saya hanya sakit hati, sementara mereka sudah mati?”. Tentu saja saya berhasil melakukan sebuah pelemparan penderitaan pada orang yang sudah meninggal. Bukankah sakit hati hanya kalah sakit dengan mati?

Peziarah asal Inggris mencari nisan kerabatnya.
Namun tak semua pemakaman saya yakin bisa melakukan itu. Pemakaman ini dapat sedikit menyembuhkan patah hati karena disusun dengan sebuah kesadaran akan nilai kemanusiaan. Nilai-nilai yang jika kita perhatikan jauh lebih esensial ketimbang hubungan pria dan wanita lalu berakhir putus cinta.

Tanah Pekuburan Perang Labuan berisi tentara persemakmuran Inggris yakni tentara Malaysia, India, Australia, Brunei dan Inggris sendiri. Papan nisan di pemakaman ini disusun seperti barisan tentara dengan pusatnya sebuah menara dan bendera Inggris. Di bawah bendera dan menara tersebut terdapat tiga papan nisan yang berpangkat paling tinggi. Merekalah pemimpin pasukan. Semua pasukan menghadap pada nisan ini, mereka jenderal di dunia sampai akhirat para tentara yang gugur di medan perang.

Saya hampir tak percaya ketika pada akhirnya menemui beberapa kuburan yang tak menghadap pemimpin mereka. Nama-nama India tertera pada papan nisan ini. Tulisan Arab menghiasi papan nisan mereka, ya mereka Muslim. Saya kemudian bertanya-tanya apa yang menyebabkan papan nisan ini tak menghadap pada pemimpin mereka, pada jenderal mereka. Jawabnya satu, nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi.

Nisan-nisan tentara Muslim India ini ternyata disengaja tidak menghadap sang jenderal sebab mereka menghadap sang “Maha Jendral”. Kuburan mereka menghadap sesuai dengan ketentuan Islam dalam pemakaman. Sebuah institusi militer yang angkuh pada akhirnya menyerah pada Tuhan. Pada nilai yang dipegang sang tentara Muslim tersebut. Seperti sebuah pengingat hanya pada Tuhan kita akan kembali.

Nisan tentara India
Mata saya kemudian mulai menyadari bahwa di pemakaman ini juga terdapat sebuah harmoni kecil yang menarik. Salib bersatu dengan tulisan Arab dan dihiasi dengan lambang Israel. Sebuah toleransi yang begitu cantik. Di hadapan Tuhan semua sama. Pada akhirnya kita akan menyatu dengan tanah. Di titik itu saya sadar banyak masalah yang lebih berat dari sekedar putus cinta, dari sekedar relasi pria dan wanita.

Saat sedang asyik mengamati nilai toleransi itu. Seorang peziarah asal Inggris tiba-tiba mendatangi saya, ia meminta saya ikut mencari nisan kerabatnya. Dengan payung hitam untuk melindungi diri dari panas ia meneliti satu demi satu papan nisan. Mencari papan nisan untuk sekedar tersenyum ketika menemukan orang yang dicintainya. Teduh rasanya melihat kasih sayang dapat terus mengalir walau terpisah secara fisik dan waktu.

Saya kemudian kembali melangkahkan kaki ke nisan B.Dowie. Membayangkan ketika usia 21 tahun ia sudah kehilangan semua cintanya. Sementara saya yang menatap, si manusia berusia 23 tahun merasa menyerah begitu saja karena hal kecil. Tak beberapa lama saya menekuk lutut saya untuk duduk lebih lama di samping nisan tersebut. Duduk di samping orang yang tak pernah saya kenal namun terasa begitu dekat.

Sambil sedikit merenung saya membaca kembali tulisan di bawah namanya “Some Day We Will Understand”. Malam ini setahun setelah saya tak lagi bersama orang yang saya sayangi saya baru paham maksud tulisan itu. Di titik ini saya sadar hikmah dari hati yang kosong bukan membiarkan hati itu kering. Hikmah dari hati yang kosong adalah menyadari bahwa ada banyak orang di masyarakat yang merindukan kasih sayang dari hati kita, tak hanya seorang kekasih. Sayangnya butuh waktu lama untuk menyadari itu. Menyadari apa yang dikatakan nisan Bowie, “Some Day we will understand”.



*proyek Destinasi Terbaik Move On digagas oleh Hifatlobrain. Kontributor tema ini antara lain Nuran Wibisono, Arman Dhani, Maharsi Wahyu, Farchan Noor Rahman, dan beberapa penulis lain. 

Jumat, 18 Mei 2012

Wandi: Sosialita Kita Butuh Duplikat Kunci Motor

Setia Band, contoh sosialita kelas berat.

Ditemui di tengah sesi pemotretan untuk majalah pria, Wandi Tri Atmodjo sangat ramah menyambut saya. “Sekoteng Mas,” tawarnya kepada saya membuka obrolan. Meski dikenal sebagai sosialita ibukota namun kesukaannya pada sekoteng tetap ia pertahankan. “Orang ganteng minum sekoteng,” ujarnya singkat saat saya tanya alasannya. Sambil menyeduh sekoteng ia mempermainkan bibirnya yang habis dientup tawon, menambah seksi sosialita ibu kota ini.

Kedatangan saya menemui Wandi yang masih tetanggan dengan keluarga Cendana ini bukan tanpa alasan. Belum lama ini ia ditunjuk sebagai Ketua Persatuan Katanya Sosialita (PKS). “Itung-itung ibadah Mas,” katanya saat saya tanya perihal ini. Dalam wawancara ini ia akan membeberkan visi misinya sebagai Ketua PKS, hubungannya dengan Haikal AFI serta alasannya menyukai produk shuvit. Berikut ini adalah wawancara salah satu awak redaksi Juminten (jumat Ngindie Tenan) yakni Toni Sucipto dengan Wandi Tri Atmodjo.

Halo Mas Wandi, abis cukur jenggot ya?
Tidak mas, lebih tepatnya abis cukur takujeng. Kalo gak tau takujeng, coba tanya Dina Camen.

Kalau cukur jenggot baiknya pada saat Imsak atau saat berbuka?
Biasanya pas menjelang imsak puasa daud mas, tapi tergantung klenik dan fengsui kiblat juga.

Begini Mas Wandi, belum lama ini anda menjadi ketua Persatuan Katanya Sosialita (PKS), bisa diceritakan bagaimana anda bisa terpilih menjadi ketua?
Sebenarnya itu yang terpilih Mbak Hermin, karena beliau sibuk jadinya saya di tunjuk sebagai caretaker-nya PKS.

Dalam pidato pengangkatan, anda mengatakan ingin mengadakan seleksi sosialita sejak dini, apa tujuannya?
Soalnya Dini Aminarti kan sangat febeles, jadi ya begitu Mas. Tujuannya untuk lebih enak dipandang aja. Walaupun dipandang sebelah mata juga oke.

Sebelumnya anda juga dikenal sebagai sosialita yang suka menggandakan kunci motor, apa anda tidak takut tersaingi dengan hadirnya para sosialita baru ini?
Nah, sebenarnya itu naluri alam. Kemampuan seseorang beradaptasi dengan ekosistem dan posisinya di rantai makanan sangat berpengaruh di kalangan sosialita.

Lantas bagaimana membagi waktu antara hobi menduplikat kunci motor anda dengan mengurus Persatuan Katanya Sosialita (PKS)?
Berdasarkan atas pancasila, yaitu sila ke-5 *keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia* jadi, kita harus adilmembagi waktu baik itu waktu dulu ataupun waktu sekarang.

Teman saya, Didon ingin mendaftar menjadi sosialita baru. Bagaimana syarat pendaftaran menjadi sosialita baru itu?
Berhubung Didon anak Bupati Kebumen *serius*, mau tak mau ya kita angkat jadi anggota. Demi keberlangsungan dan untuk melebarkan sayap di tanah ngapak sakti.

Apakah setiap sosialita harus sudah punya e-KTP?
Jadi gini, kemarin emak saya nelpon, suruh pulang kampung untuk bikin e-KTP. Namun, karena saya sering rental dvd di Bimasakti. Jadinya e-KTP tak diwajibkan.

Buat anda sendiri kriteria sosialita itu seperti apa?
Kalo ini masih rahasiak, jangan sampai publik tau.

Lantas apa bedanya sosialita dengan Mbah Darmo?
Mbah darmo kan sudah masup tipi dan juga berduet dengan Mr.x. sedangkan kami lebih suka bergerak di bawah tanah dan menggunakan frekuensi radio SW.

Minggu lalu, ketua dewan Sosialita Kampung Rambutan, Bucek Rako mengatakan akan mengkudeta anda karena anda suka memakai produk Alien Workshop, benar demikian?
Dulu waktu masih pagaruyuang memang iya mas. Saya sempat jatuh cinta sama produk alien. Tapi, sejak loncing besar-besaran produk shuvit, saya berpindah haluan. Logonya itu lho mas, gambar laki-laki dengan topi merah terbalik dan memandang langit sambil mengacungkan jari tengah, laya lagunya Kapten Jek.

Mengapa anda suka memakai produk Alien Workshop?
Jawabannya ada di pertanyaan sebelumnya. Silahkan dijabarkan sendiri.

Oh iya, seorang wartawan Kompas mengatakan anda pernah menolak sesi foto untuk rubrik Sosialita di Koran itu, apa alasan anda menolak?
Oya, waktu itu saya masih pake kawat gigi.

Apakah anda setuju dengan prinsip, mangan ora mangan asal nyosialita?
Hmm.. itu sebenarnya saduran dari prinsipnya Mbah Darmo yang notabene adalah slengker Tangkuban Perahu.

Pertanyaan terakhir, anda pesan khusus untuk Smile AFI?
Aduhh, berhubung saya sekampung halaman dengan Miki dan Haikal AFI 2. Saya salam buat mereka aja. Semoga mereka berdua lolos audisi duta Jogja Chicken se jawa tengah.

*di akhir sesi wawancara Wandi Tri Atmodjo menolak diambil fotonya. Menurutnya dalam surat kontrak wawancara tidak dibeberkan uang untuk pemotretan. Sebagai pemimpin redaksi Kojor saya mohon maaf atas kelalaian ini. Namun sebagai gantinya ia memberikan sebuah artwork Setia Band yang sangat nyeni.

Kamis, 17 Mei 2012

Lapangan Bola Yang Gersang

(Kritik Terbuka Untuk Mata Kuliah Fotografi)

Saya ingat Ed Zoelverdi dalam bukunya yang berjudul “Mat Kodak Melihat dengan Sejuta Mata” membuat sebuah perumpamaan yang menarik. “Surat Kabar di negeri kita dewasa ini tidak lagi membiarkan wajahnya gundul bagai lapangan bola,” tulisnya. Catatan ini kemudian dimuat kembali dalam artikel “Mat Kodak Tidak Asal Jepret” dalam buku Cerita di Balik Dapur Tempo. 

Ed mengungkapkan hal tersebut untuk merespon perkembangan media massa yang mulai sadar akan arti penting kehadiran foto. Perumpamaannya dengan lapangan bola begitu konyol tapi menarik. Coba bayangkan misalnya sebuah koran tanpa ada foto di dalamnya maka rasanya begitu hambar. Kosong dan datar seperti sebuah lapangan bola. Namun apakah kemudian fungsi foto hanya sebagai gimmick agar “lapangan bola” tersebut terlihat berisi? Mat Kodak tidak sebodoh itu.

Editor foto pertama di Majalah Tempo ini melanjutkan kalimatnya dengan menulis, “Dibandingkan sektor tulis menulis, pengelolaan sektor foto belum dilakukan sepenuh hati dan dengan pengertian yang jelas,” tambahnya. Artinya sejak awal kehadiran foto di media Ed sudah mewanti-wanti agar foto tak sekedar dipandang sebagai sebuah penghias semata. Ada yang lebih dalam dari tampilnya sebuah foto di media.

Tulisan Ed seketika mampir di kepala saya tatkala beberapa hari lalu saya membaca sebuah tulisan adik kelas saya, Saila (bisa dibaca di sini). Di situ Saila menuliskan kritik atau lebih tepat dikatakan unek-uneknya mengenai pengajaran mata kuliah fotografi di jurusan Komunikasi UGM. Sebuah unek-unek yang mungkin juga keluar dari banyak mahasiswa yang pernah atau sedang mengikuti mata kuliah itu. Artikel itu bagi saya penting untuk dicermati, ketika sebuah institusi pendidikan menutup mata pada apa yang diinginkan oleh mahasiswanya, apa bedanya dengan Rizieq (tanpa embel-embel Habib) yang merasa tahu segalanya.

Saya setuju terhadap kritik yang dilontarkan Saila. Ia menganggap bahwa mata kuliah fotografi begitu kering dan abai terhadap konteks. Juga ia menyikapi absennya pengajaran kritik foto yang penting bagi perkembangan mahasiswa yang mengikuti kuliah itu sendiri. Saya sepenuhnya setuju dengan apa yang dikatakan adik kelas saya tersebut. Yang ingin saya tambahkan adalah mengapa keluhan itu menjadi penting untuk didengarkan.

Pengajaran fotografi di Komunikasi UGM terdapat dalam sebuah mata kuliah Fotografi (nama yang dipakai pada jaman saya kuliah). Sepengetahuan saya namanya kemudian berubah menjadi fotografi jurnalistik. Pengajaran fotografi di sini biasanya diawali dengan pengajaran teknik dasar, hubungan segitiga antara diafragma, ISO, dan kecepatan rana. Juga mengenai pencahayaan dan komposisi untuk kemudian ditutup dengan esai foto.

Buat saya (dan mungkin Saila) ada sebuah kajian yang dilupakan padahal vital. Kita tak pernah diberi sebuah pengertian yang menyeluruh mengenai fotografi itu sendiri. Hal ini misalnya terlihat dari absennya pengajaran mengenai kritik foto pada mata kuliah ini. Absennya hal ini bukan hanya membuat fotografi dimaknai sebagai sebuah dunia praktis saja. Yang lebih memprihantikan absennya kajian ini membuat mahasiswa tak paham dengan konteks mengapa foto penting dalam sebuah kajian media. Dalam buku “Pot Pouri Fotografi”, Soeprapto Soedjono mengatakan bahwa kritik foto adalah elemen ketiga yang penting dalam pengajaran fotografi. Artinya pengajaran fotografi tanpa menyertakan hal ini hanya akan jadi arena membentuk kuli yang menggotong kamera kemana-mana.

Mungkin sebagian orang akan berpikir saya dan Saila terlalu naif. Lalu mengatakan bahwa di lapangan yang diperlukan adalah teknis semata. Saya tak bisa menjawab hal ini. Saya hanya akan mengutip apa yang selalu dikatakan Kartono Riyadi. Fotografer legendaris Kompas ini mengatakan, “Kalau memotret pakailah otakmu!” Istilah memakai otak berarti mencakup penguasaan teknis dan tahu konteks apa yang akan dipotret. Miris rasanya ketika sebuah mata kuliah di jurusan komunikasi tak memperhatikan hal yang mulai dirisaukan Mat Kodak dan Kartono Riyadi puluhan tahun lalu.

Abainya pengajaran kritik foto dan pemahaman yang lebih menyeluruh pada fotografi sejatinya membuat McLuhan menangis tersedu sambil mengunggah fotonya di instagram. Seperti idiom dari McLuhan yang pasti semua anak komunikasi pernah mendengar “Medium is the message”, maka pengajaran fotografi harus menyadari medium foto itu sendiri. Diungkapkan Jakob Oetama di biografi Kartono Riyadi bahwa kerja wartawan tulis dan foto identik. Pemahaman mengenai medium masing-masing menjadi penting.

Fotografi sebagai sebuah medium penyampai pesan (apalagi jika kemudian berubah namanya menjadi mata kuliah fotografi jurnalistik) harus mencoba menengok apa yang dikatakan John C Merill mengenai produksi makna. Merill melukiskan sosok wartawan sebagai “yang berpikir dan merasa, yang rasional sekaligus sensitif, yang berdedikasi kepada dunia objektif di luar “sana” dan kepada dunia subjektif di dalam “sini”. Artinya dari situ jelas bahwa konteks berdiri dan kritik fotografi penting untuk diperhatikan. Pemahaman akan medium foto dan tulisan sebagai penyampai pesan harus dipahami secara menyeluruh.

Ini misalnya terjawantahkan pada Workshop Foto Jurnalistik garapan Antara di mana pewarta foto juga dididik untuk menulis laporan jurnalistik. Hal itu sebenarnya agar logika produksi makna yang dikatakan Merill menjadi nyata. Sehingga foto yang dihasilkan adalah sebuah penyampai pesan yang punya alasan atau setidaknya pesan jurnalistik yang jelas.

Sayangnya hal itu nampaknya belum disadari betul dalam pengajaran mata kuliah fotografi di Komunikasi UGM. Miris meihat hal ini. Apalagi ditambah kenyataan bahwa media kini begitu pesat perkembangannya. Kecepatan perkembangan media yang tentu saja tak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia visual. Ketika sebuah institusi pendidikan penyuplai “orang media” masih gagap dalam pengajaran medium penyampai pesan secara visual maka tak heran jika media kita berhenti di tengah jalan. Sudah saatnya kita semua memikirkan nasib mata kuliah fotografi. Jika terus begini saya yakin seperti kata Mat Kodak, kajian ini hanya menjadi lapangan bola. Tepatnya lapangan bola yang gersang.

Selasa, 15 Mei 2012

Senyum Polpot Untuk Mbak Ti

Mbak Ti, Mbah Satinah, Satini dan Ilham sedang menyaksikan Dewi Bintari.

“Ham, kene Ham, ono Dewi Bintari (Ham sini Ham, ada Dewi Bintari ini),” panggil Supriati pada anaknya yang bernama Ilham. Supriati yang biasa disapa dengan Mbak Ti malam itu memanggil anaknya untuk menyaksikan sebuah acara TV berjudul Dewi Bintari. Sekejap kemudian Ilham yang sebentar lagi menginjak lima tahun sudah hadir di pangkuan Mbak Ti untuk menonton TV bersama. “Meneng Ham, lagi apik iki (Diam Ham, sedang bagus ini),” ujar Mbak Ti sambil menahan kaki anaknya yang ingin berlari-lari di sekitar TV.

Malam itu Mbak Ti dan Ilham ditemani oleh Mbah Satinah dan Satini. Mbak Ti sendiri adalah istri kedua hostfam saya yakni Pak Boiman, sementara Mbah Satinah adalah istri pertamanya. Di luar topik soal poligami yang secara pribadi tidak saya setujui namun keduanya hidup rukun. Sementara itu Satini adalah anak Mbah Satinah yang sudah dua bulan ini tinggal di kediaman Mbah. Mereka berempat duduk tenang di depan televisi menyaksikan Dewi Bintari. Mbak Ti duduk memangku Ilham sambil memijat punggung Mbah Satinah. Sementara Satini duduk sedikit terpisah di sebelah kiri televisi. Mereka menonton televisi sambil mengobrolkan cerita atau dialog "Dewi Bintari".

Program ini sendiri adalah program baru di MNC TV. “Anyar niki Pak, gantine Fathiyah (Baru ini Pak, gantinya Fathiyah),” jelas Mbak Ti. Saya gagal menemukan sumber terpercaya apakah "Dewi Bintari" benar-benar program pengganti Fathiyah, yang merupakan salah satu program unggulan TV yang bernaung di bawah konglomerat media Hary Tanoe. Namun saat melihat situs MNC saya menemukan fakta bahwa acara ini memang program unggulan baru TV tersebut selain sebut saja Tendangan Si Madun dan Aladin.

"Dewi Bintari" sendiri bercerita mengenai kerajaan yang ditinggal oleh permaisuri baik hati, entah karena meninggal dunia atau alasan lain. Yang jelas Prabu Narayan sang pemilik kerajaan (diperankan Indra Brugman) harus mengurus kerajaan tersebut serta anak-anaknya yang berjumlah enam orang. Untuk mengurus anak-anaknya ia meminta bantuan Putri Shi Ma (Ratu Felisha) seorang putri dari Tiongkok yang ternyata memiliki sifat jahat dan ingin menguasai kerajaan. Untungnya kerajaan tersebut dilindungi oleh seorang Dewi di khayangan bernama Dewi Bintari (Luna Maya). Maka cerita pun bergulir ala epos khas sinetron Indonesia, perlawanan yang jahat dan baik, begitu hitam putih.

Mbak Ti mengatakan cerita ini seru dan menarik dibandingkan dengan acara lain. Ia tak membeberkan secara jelas dimana letak seru dan menariknya. “Nek niki mboten mumet Pak, nek Tutur Tinular niku ceritane bola-bali ae (Kalau ini tidak membuat pusing pak, kalau Tutur Tinular itu ceritanya muter-muter),” sela Satini mengenai alasan mengapa Dewi Bintari termasuk acara yang menarik. “Tutur Tinular e kadang mbulet (muter-muter ceritanya),” tambah Mbah Satinah. Mbak Ti hanya mengamini apa yang dikatakan oleh dua rekan menontonnya tersebut.

Ada yang menarik dari apa yang dikatakan oleh Satini dan Mbah Satinah soal alasan mengapa Dewi Bintari apik. Ia menggunakan alasan perbandingan dengan acara lain, dan acara itu adalah "Tutur Tinular". Keduanya sama-sama bercerita soal kehidupan kerajaan. Sebuah cerita mengenai konflik kerajaan yang dikemas (berusaha) mengikuti zaman.
Mbak Ti menonton sambil memijat Mbah Satinah.

Lantas apakah kemudian topik kerajaan menjadi sebuah mutlaknya acara TV menjadi laris di kalangan akar rumput? Bisa jadi, tapi saya cenderung menjawab bukan karena itu. Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah tayangan menjadi menarik, tema acara hanya jadi salah satu faktornya. 

“Ham, badut e metu Ham (Ham badutnya keluar Ham),” seru Mbak Ti pada Ilham sambil tertawa kecil. Ilham yang melihat tokoh badut di acara tersebut kemudian tertawa terbahak-bahak menyaksikannya. Badut yang dimaksud Mbak Ti adalah sebuah tokoh di Dewi Bintari yang didandani mirip badut. Ia diceritakan bertingkah konyol dengan lawakan-lawakan yang sangat slapstick seperti terbentur pintu dan jatuh tiba-tiba. Keempat orang di depan televisi ini kemudian tertawa bersama.

Lupakan kritik soal lawakan tipikal, menyenangkan rasanya melihat keempat orang ini tertawa begitu lepas. Tak berapa lama layar kemudian berganti dengan iklan. “Sponsor Ham, lagi seru padal mau (tadi),” celetuk Mbak Ti pada anaknya. Sponsor sendiri adalah sebutan untuk iklan pada masyarakat di sini. Orang-orang di sini jarang dan hampir tak pernah menyebut iklan dengan iklan melainkan dengan sponsor. Sepanjang sponsor berjalan Mbak Ti masih memijat Mbah Satinah sambil mengobrol banyak hal. sementara Ilham berlarian kecil di seputar TV. Tak ada perpindahan saluran TV meski sedang sponsor. 

“Mulai ki lho Ham, ojo pelayon wae (Udah mulai ini Ham, jangan lari-lari),” ucap Mbah Satinah pada Ilham ketika sponsor sudah berganti dengan Dewi Bintari. Mereka berempat kembali duduk. Kembali mengobrol dan larut dalam apa yang mereka saksikan. Sambil tak lupa tentunya berkomentar banyak hal. Sebuah kotak ajaib sedang menyiarkan keajaibannya, membius mereka yang ada di depannya.

Setelah sekitar satu jam di depan televisi keempat penonton Dewi Bintari ini akhirnya memisahkan diri tatkala acara habis. “Entek Ham, ayo bali (Sudah habis Ham, ayo pulang aja),” ajak Mbak Ti pada anaknya. Rumah Mbak Ti memang terpisah dengan rumah Mbah Satinah. Mereka pun pamit pulang dan pergi begitu saja. Ruangan televisi menjadi begitu sepi dari hiruk pikuk komentar mereka. Saya tetap di ruang ini, memikirkan bagaimana bius kotak ajaib begitu memukau. 

***
Salah satu kesenangan saya saat malam hari adalah mengamati bagaimana tingkah laku Mbah Satinah dan keluarganya menonton televisi. Ada banyak kejadian kecil yang menyadarkan saya bahwa beberapa teori komunikasi hanya asyik untuk dihina. Maaf sinis saya sedang kumat.

Menyaksikan mereka menonton televisi mengingatkan saya pada sebuah istilah jawa lama, “grenengan”. Tak ada sebuah arti khusus mengenai arti ini. Namun “grenengan” bisa dijelaskan sebagai sebuah kondisi dimana sesuatu (merujuk pada suara biasanya) hadir mengiringi kegiatan kita atau sebuah suara yang volumenya kecil. “Grenengan” bukan sebuah tujuan melainkan sampingan. Misalnya untuk orang yang terbiasa belajar dengan suara musik maka musik itulah grenengan-nya. Ketika musik dimatikan maka seperti ada yang hilang.

Buat saya televisi di sini juga dipandang sebagai sebuah “grenengan”. Bukan konten televisi yang menjadi perhatian utama penonton melainkan bagaimana ia bisa menjadi sebuah sabuk pengikat obrolan ataupun interaksi antar para penonton. Lihat misalnya ketika mereka terus mengobrol sepanjang acara. Mengobrolkan banyak hal termasuk apa yang mereka lihat di acara tersebut. Televisi seperti menjadi “grenengan” yang mengikat interaksi sosial di antara yang menonton. Mereka jarang menonton televisi sendiri, melainkan secara komunal (tiga atau empat orang) dan ketika salah satu pihak merasa bosan maka semua akan meninggalkan televisi untuk kemudian ruang televisi menjadi kosong melompong. Obrolan ketika acara berlangsung lebih menarik daripada acara itu sendiri. 
TV yang digunakan untuk menonton Dewi Bintari (Luna Maya).

Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang menjadikan tontonan sebagai sebuah tujuan. Mengapa Avengers misalnya membuat antri jutaan orang? Karena orang memang ingin melihat tingkah polah para  jagoan di Avengers. Sementara masyarakat desa hanya menjadikan konten sebuah acara sebagai topik pemantik obrolan, “grenengan” yang mengasyikkan.

Bukankah ketika jeda iklan kita kerap mengganti-ganti saluran? Hal itu tak terjadi saat keluarga Mbah Satinah menonton televisi. Mereka menyikapi iklan atau sponsor sebagai sebuah jeda untuk mengobrol. Mereka tak menginginkan sebuah cerita yang padat melainkan bagaimana iklan tetap menjadi “grenengan” yang memacu obrolan.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa ada perbedaan penyikapan terhadap media. Jawabnya bisa jadi karena konsumsi media. “Rumien niku Tutur Tinular wonten neng radio Pak, apik (Dulu itu Tutur Tinular ada di radio Pak, bagus dulu),” ujar Mbah Satinah suatu ketika. “Nek kagem boso Jowo sakjane luih apik (Kalau Tutur Tinular memakai bahasa Jawa akan lebih bagus),” tambah Mbah. Menarik mendengar apa yang dikatakan Mbah.

Ada dua hal yang patut dicermati, pertama adalah bagaimana radio memegang peranan, yang kedua penggunaan bahasa. Ya kata kuncinya adalah suara atau audio. Mbah, Mbak Ti dan Satini tumbuh dan besar dalam sebuah kultur lisan yang begitu kuat. Kultur lisan ini juga dapat dicermati pada beberapa aspek lain. Misalnya pada saat teknologi handphone hadir ia digunakan untuk merekam suara ceramah untuk kemudian bisa didengarkan berulang-ulang. Konsumsi media berbasis audio tertanam kuat pada masyarakat sehingga seperti halnya sifat dasar audio ia otomatis menjadi sebuah “grenengan”.

Televisi kemudian menghadirkan fasilitas “grenengan” plus visual. Maka keterpukauan akan visual menjadi begitu tinggi. Lihat misalnya saat tokoh macam Badut di Dewi Bintari atau anak yang suka mendendangkan lagu rap di "Tutur Tinular" muncul, maka gelak tawa muncul. Satu kesempatan lain Pak Ratno, seorang tetangga saya, mengatakan ia senang menonton "Tutur Tinular" karena “Akeh tarung-tarung e Pak (Banyak adegan perkelahiannya),” jelasnya singkat. Adegan perkelahian, lawakan slapstick adalah sebuah tanda bagaimana keterpukauan visual mereka menyeruak. Sesuatu yang tak dihadirkan oleh media audio.
Menonton TV sambil mengobrol.

Dalam bahasa yang sok pintar (ah saya sebal harus bawa-bawa teori) televisi mereka pilih karena menghadirkan sebuah paket yang komplit. Daft dan Lengel melalui Media Richness Theory menyatakan bahwa orang akan cenderung memilih sebuah media yang menghadirkan paket komplet, maka itu kenapa tatap muka dalam rapat masih dipakai padahal fasilitas mengobrol di dunia maya sudah ada. Pun televisi dibanding radio, “grenengan” ala televisi menghadirkan sebuah fasilitas yang lebih komplet.

Namun pertanyaannya kemudian adalah mengapa Mbah Tinah, Mbak Ti dan Satini tetap memandang televisi sebagai radio. Jawabnya bisa jadi karena kegagapan terhadap lompatan teknologi komunikasi. Kecenderungan leaping (lompatan) antara radio ke televisi tidak berlangsung mulus. Hal ini bisa jadi karena keterbatasan akses informasi. Kultur yang terlalu kuat atau beberapa hal lain. Namun yang jelas kecacatan leaping ini membuat banyak hal menjadi mandek.

Kegagapan Leaping inilah yang banyak dilupakan oleh orang banyak. Lantas secara sinis kita membagi tontonan menjadi bermutu dan tidak bermutu. Menonton "Tutur Tinular" itu tak bermutu sementara "Stand Up Comedy" bermutu. Atau "Dewi Bintari" hanya untuk selera rendahan sementara "Just Alvin" sebuah jaminan tayangan bermutu. Kita tak pernah menyadari ada jurang kegagapan penerimaan logika teknologi di masyarakat desa.
Ruang TV Kosong setelah acara "Dewi Bintari" usai.

Dan tentu saja para so called pakar komunikasi itu hanya asyik menjadi konsultan komunikasi politik politisi. Atau asyik dengan kritik yang sangat njelimet, tapi melupakan bagaimana bidangnya diresapi akar rumput. Agaknya inilah yang membuat jurang semakin besar. Tentu saja jurang ini dimanfaatkan para industrialis televisi yang ingin meneguk kue keuntungan dengan melihat celah ini. Tutur Tinular, Dewi Bintari, Tendangan si Madun atau Aladin secara jujur dan sedih saya nyatakan bisa membaca celah itu meski dengan hasil yang membuat saya mengucap istighfar

Buat saya kajian audience ini adalah sebuah kecatatan paling utama di bidang komunikasi. Dibanding dua kajian lain, riset mengenai audience begitu minim maka jangan heran bila semua produksi merujuk pada riset ala kadarnya ala produk riset kiblat pengiklan. Pencatatan etnografis di kajian audience menjadi penting agar televisi bukan lingkaran setan produksi dunia khayal yang penuh mimpi dan ladang onani pengiklan.

Di ruangan ini saya sendiri. Mengetik ditemani laptop kesayangan saya. Mbak Ti dan Ilham sudah pulang ke rumah. Sementara itu Mbah Satinah dan Satini terlelap tidur di kamarnya masing-masing. Televisi tak lagi menayangkan "Dewi Bintari", ia menjadi sebuah layar hitam yang datar. Ia menjadi sebuah kotak hitam yang diam. Tanpa sengaja Polpot dari Tika berkumandang ketika saya mengetik ini, suara Tika lamat-lamat terdengar, “But the magic box’s a potent anesthesia. The only way to go is to smile through it all.” Mengamini apa kata Tika saya hanya bisa tersenyum menatap kotak ajaib bernama televisi.

  

Jumat, 11 Mei 2012

Dito Minami: Scene Jogging Mangga Dua Mulai Menggeliat


“Saya kulakan baju dulu di Mangga Dua,” ujar Dito Minami saat saya hubungi untuk janjian wawancara via telepon. “Saya jogging di Pasar Subuh Senen dulu,” ujarnya lagi saat saya menghubungi keesokan harinya. Jadwal Dito Minami setelah mundur dari Paguyuban Jogging Kontemporer memang sangat sibuk. “Lagi sibuk ngurus scene jogging Mangga Dua,” jelasnya mengenai kesibukannya.

Minggu lalu, wartawan kami, Ardi Wilda, akhirnya berhasil menemui Dito di Lebak Bulus sambil menonton Persija. Kepada para pembaca setia Juminten (Jumat Ngindie Tenan) Dito membeberkan alasannya mundur dari Paguyuban Jogging Kontemporer, personil westlife yang ia suka dan perseteruannya dengan Ocha Gorgom. Berikut ini wawancara sedikit bermutu dengan Dito Minami. Sebelum wawancara ia berpesan pada para pembaca Juminten. “Jangan lupa sholat jumat ya pembaca Juminten,”pesan Dito bijak. 


Halo Kak Dito Minami, sudah jogging belum hari ini?
Belum…makanya ini baru jawab interview sambil jogging keliling tugu Jogja…

Sebelum wawancara dimulai boleh kasih tips cara mengikat tali sepatu yang benar?
Jangan ndodok (baca: jongkok)…terakhir kali ndodok, saya mendadak kejlungup…

Belum lama ini anda memutuskan mundur dari Paguyuban Jogging Kontemporer, apa yang menyebabkan anda mundur?
Soalnya joggingnya pake gaya patah-patah Anissa Gahar…saya coba sok kating-et dengan cara ngglundhung aja tapi langsung kena SP-1…Sakit hati saya…

Paguyuban Jogging Kontemporer punya tagline Lebih Baik Lari daripada Ngindie, apa maksudnya?
Ngindie ki ga bikin gembrobyos (baca: berkeringat sebegitu derasnya)...mens sana in corpore sano…Dalam tubuh yang gembrobyos terdapat jiwa yang kontemporer…jadi perbanyaklah amal ibadah dan jogging…

Setelah anda mundur lantas bagaimana tanggapan Richard Sambera sebagai Dewan Syuro Yayasan Jogging Kontemporer?
Dia stress…kalo renang sukanya mundur-mundur ga jelas…sering juga ketiduran pas melakukan gaya kupu-kupu…

Anda diisukan mengundurkan diri karena terlibat dalam gerakan bawah tanah Front Pembenci Indie (FPI), benar begitu?
Ah itu cuma gosip…saya cuma bantu mamah-mamah muda dari kelompok itu buat masak…naked chef gitu deh…

Bisa dijelaskan mengenai organisasi FPI ini?
Konon katanya ingin mengembalikan tatanan indie ke jalan yang benar…nah masalahe belum ketemu jalan yang benar itu lewat mana…

Isu yang beredar bersama dengan Marzuki Alie anda berkonfrontasi dengan Yayasan Bela Diri Indie Pimpinan Gorgom, benar begitu?
Lumayan…habis dia eksis banget…ga ketulungan…ngabisin jatah ke-eksisan umat manusia di muka bumi ini…statusnya banyak banget, mulai dari seniman,kurator,vokalis,ibu kontrakan,sampe statusnya sebagai Mahasiswa Tingkat Akhir Banget pun dipertahankan hingga kini… (Wawancara sanggahan Gorgom bisa dibaca di sini)
Anda belum lama ini mengeluarkan Peraturan Daerah mengenai kode etik berpakaian dalam konser, bisa dijelaskan mengenai kode etik tersebut?
Sebenarnya ki ya sederhana, berpakaianlah yang sopan, dan ganteng/cantik…jangan umbrus…biar ga sepet dipandang mata…
Dan tentunya dengan tampil umbrus akan menambah dosa orang-orang di sekitarnya akibat mencibir…

Isu yang beredar anda mengeluarkan kode etik berpakaian tersebut agar lapak baju anda di mangga dua laris, benar demikian?
Sebenarnya ya ga gitu-gitu amat…cuma masalahnya saya dah mau buka cabang Mangga Tiga dan Mangga Empat…dan saya lihat keberadaan Perda ini akan membantu penggalangan dana untuk pencalonan saya menjadi DKI 1 (Daerah Khusus Indie)

Ketua Paguyuban pedagang pakaian Kontemporer (P3K) Haviez Tri Atmodjo mengatakan bisnis pakaian anda di Mangga Dua hasil penggelapan dana konser Westlife, ada sanggahan mengenai hal ini?
Jadi Havizmarkoviz bilang gitu?saya malah baru denger…omongan eksperimental gitu ga usah dianggep…lagian dia cuma pengen mengalihkan isu percintaan terbarunya aja… (Penulis sedang berusaha mengatur jadwal wawancara dengan Haviez, namun ia masih sibuk kulakan baju di Tanah Abang)

Ngomong-ngomong siapa personil Westlife yang anda suka?
Brian lah…dia kan militan abis…begitu temen-temennya dirasa kurang nge-roots sebagai boysband, dia memutuskan cabut dan menekuni bisnis anthurium...

Pertanyaan terakhir, apa cita-cita terbesar anda untuk scene jogging eh maksud saya scene musik di Mangga Dua?
Berserah aja…patuh dan taat pada Garis Besar Haluan Indie maupun Sumpah Indie…tapi tetap eling lan waspada…

*Juminten Minggu Depan akan menghadirkan wawancara bersama Wandi Rana yang akan bicara banyak soal kehidupan sosialita di ibukota. 


Kamis, 10 Mei 2012

Bapak, Ibu, dan Yusi


Kotak obrolan di halaman facebook saya tiba-tiba muncul dengan sebuah pesan. “Wartawan Rolling Stone di Jogja sekarang siapa ya We?”. Pesan itu datang dari Ape, rekan saya yang juga awak Balairung (Pers Kampus di UGM). Saya menjawab tidak tahu karena sudah tidak lagi menjadi kontributor di majalah tersebut. Ia lalu menjelaskan sedang mencari orang yang bisa mengisi materi pelatihan menulis, ia diminta mereferensikan beberapa nama yang dirasa kompeten.

Obrolan kami pun berlanjut dengan berdiskusi mengenai siapa orang yang cocok. Mulai dari Soleh Solihun (mantan wartawan RSI), Adi Renaldi (Jakartabeat), Ahmad Yunus (Pantau), Ashadi Siregar (LP3S), dan Matatita (Penulis Tales From The Road). Setelah mengobrol lumayan panjang saya kemudian baru ingat sebuah nama. “Kamu tahu Yusi Pareanom Pe? Kemarin aku mengusulkan dia buat ngisi pelatihan menulis di Indonesia Mengajar," saya mencoba menjelaskan. Ia ternyata mengetahui sosok yang membuat buku Rumah Kopi Singa Tertawa tersebut. 

“Dia itu jurnalis ketiga di list favoritku We,” tulis Ape di obrolan facebook. Saya kemudian menanggapi pernyataan Ape. “Boleh kutebak peringkat satu dan duanya Pe?”. Dengan cepat Ape membalas, “Silakan, tapi kayanya enggak mungkin bener, hehe,” balas Ape. Merasa sedikit tertantang dan yakin jawaban saya pasti benar langsung saya coba layangkan jawaban. “Pasti peringkat satu dan dua antara Andreas Harsono atau Linda Christanty,” balas saya dengan keyakinan menggebu. “Salah, peringkat satu dan dua itu bapak dan ibuku,” balasnya santai. Saya kemudian merasa dikadali oleh jawaban Ape.

Yang menarik kemudian adalah ketika dirinya menjelaskan mengapa Bapak dan Ibunya yang menempati peringkat satu dan dua. “Sebab karena mereka aku jadi tahu kalau bertanya ke orang itu menambah pengetahuan kita, misalnya nanya, ‘Mau ke mana kamu?’ dia jadi tau anaknya mau ke mana,” jelasnya. Sial, alasan yang sangat masuk akal, namun saya masih merasa dikadali, maka saya layangkan pertanyaan selanjutnya. “Tapi bapak ibumu emangnya suka memverifikasi jawabanmu?” tanya saya sok kritis. Verifikasi adalah salah satu syarat mutlak sebuah kerja jurnalistik. “Sok-sok (kadang-kadang) ya nek nelpon kita di mana kan juga verifikasi toh?” jawabnya. Ah saya pun bertekuk lukuk dengan logika Ape, menyerah dibuatnya.

Saya kemudian berpikir benar juga apa yang dikatakan mahasiswa jurusan biologi ini. Bapak dan Ibu kita lah yang pada dasarnya pertama kali mengajari kerja jurnalistik pada kita. Pertanyaannya, keingintahuannya dan pencarian fakta (menelpon atau bertanya pada teman kita misalnya) mengenai keberadaan diri kita adalah juga kerja jurnalistik. Sayangnya tak banyak yang menyadari itu, kecuali Ape tentu saja.

Sayangnya lama kelamaan kita mulai menjaga jarak dengan “wartawan” yang melahirkan kita tersebut. Kita sering malas membalas pesan pendeknya atau malas jalan berdua dengan mereka. Sifat ini biasanya muncul ketika remaja, ketika disebut anak mami adalah bencana terbesar. Kita seperti narasumber yang malas dekat-dekat dengan wartawan, takut urusan pribadi kita dicampuri. Dengan alibi kedewasaan di dalamnya.

Bapak dan Ibu juga tidak bodoh. Mereka tahu anaknya tidak mau diganggu maka “pencarian fakta” mereka pun berhenti. Mereka pasrah dengan kenyataan bahwa “narasumber” utama hidup mereka sudah dewasa. Anak mereka sudah mandiri dan kedewasaan juga berarti menghadirkan sebuah dinding. Tentu saja dinding itu terlalu tebal untuk ditembus. Akibatnya orang tua menjadi oposisi biner anaknya.

Lama kelamaan hanya anak yang bisa meruntuhkan dinding tersebut. Mengapa dinding itu dapat tembus? Bisa jadi karena mereka telah menjadi “wartawan” bagi anak mereka. Sang anak sudah tahu pertanyaan “Mau ke mana?” berarti besar pada orang tua. Itu seperti penjaga utama hubungan anak dan orangtua untuk menghasilkan sebuah “berita” yang menarik. Menghadirkan sebuah suasana rumah sebagai kantor redaksi yang positif dan nyaman.

Sayang banyak anak yang terlambat menyadari itu. Menyadari ketika mereka menjadi wartawan, sang “wartawan” yang melahirkan mereka bisa jadi telah tiada. Dan adalah tugas wartawan membuat obituari. Dalam obituari sang anak hanya bisa menyesalkan dulu tak menjaga hubungan. Merindukan pertanyaan mau kemana, atau sekedar kangen dengan pertanyaan khas “wartawan” yang melahirkan mereka. Obituari itu seperti tongkat estafet bagi obituari selanjutnya. Ya hidup akan terus berputar, pun dengan kehidupan Bapak dan Ibu sebagai “wartawan”.

“Mau kucarikan Lenka We?” ketik Ape setelah beberapa saat. Lenka sendiri adalah novel keroyokan yang dihasilkan oleh komunitas baca yang dibentuk oleh Yusi Pareanom. “Aku udah nitip temanku Pe,” balas saya singkat. Kami pun lantas melanjutkan obrolan dengan membincangkan Rumah Kopi Singa Tertawa , sebuah buku menarik yang ditulis Yusi.

Saya ingat sebuah tulisan di buku itu yang berjudul, “Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih”. Cerita itu menggambarkan bagaimana seorang guru menantang murid-muridnya membuat sebuah cerita berdasarkan kebetulan-kebetulan yang ada di hidup. Di tengah cerita sang murid protes bahwa cerita sang guru sungguh penuh dengan kebetulan. Sang guru kemudian menjawab, “Bukankah kalian yang bilang bahwa kebetulan bisa betul-betul terjadi dalam kehidupan nyata?” Seketika itu saya berpikir apakah obrolan saya dengan Ape sebuah kebetulan? Jika memang sebuah kebetulan, mungkin ini pengingat saya masih punya tugas pada sang "wartawan" sebelum saya bertugas menulis obituari dirinya, entah kapan.

*terimakasih pada Mas Budi Warsito yang sudah mengenalkan saya dengan karya Yusi Pareanom. 

Selasa, 08 Mei 2012

Istri Idaman

Pesan saya sebelum anda meneruskan membaca ini satu saja. Jika anda bukan teman akrab saya lebih baik tutup halaman ini dan pergi tidur. Kenapa? Sebab postingan ini akan membuat anda berpikir setidaknya tiga hal tentang saya. Pertama, kurang kerjaan. Kedua, mengasihani saya. Dan ketiga, anda tak akan mau membuka blog ini lagi. Jadi jika anda meneruskan membaca ini berjanjilah tidak memikirkan ketiga hal tersebut.

Satu lagi, ini adalah postingan revisi atas tipe istri idaman saya yang pernah saya posting di blog saya yang lama. Pada blog saya yang lama tersebutlah tipe wanita idaman saya seperti ini: berkaos polos, berkuncir kuda, suka minum fanta, selera musiknya sejenis Club 8 dan bersepatu kanvas. Namun usia memang merubah segalanya termasuk tipe wanita idaman saya. Pada postingan ini saya akan menceritakan tipe istri idaman saya.

Ada tiga hal besar yang menjadi kunci penting calon istri idaman saya, oke di titik ini anda boleh menutup blog ini sambil berkata, “Kaya laku aja nih orang”. Tak apa-apa saya rela kok. Ketiga hal besar itu antara lain. Pertama, ia seorang arsitek atau minimal paham arsitek. Kedua, ia suka Klub Everton. Dan yang terakhir, ia suka Kadir Doyok.

Teman akrab saya yakni Cucum dan Gorgom pernah berkata, “Opo yo ono wedok koyo ngono (Apa ya ada wanita seperti itu),” ujar mereka pesimis. Tapi saya yakin selalu ada celah mencari cinta, seperti ketika Ari Wibowo mendekati Lulu Tobing di Tersanjung. Setelah ini saya akan jelaskan alasan saya mengapa tiga hal itu penting.

Arsitek. Kenapa arsitek? Kenapa bukan tukang bakpau? Alasannya sederhana, karena arsitek adalah kajian yang menarik bagi saya. Ada dua tokoh arsitektur yang saya suka yakni Maya Lin dan Tadao Ando. Maya Lin adalah arsitek yang membuat Vietnam Memorial War, saat membuat itu ia sama sekali tidak bertanya pada veteran perang Vietnam. Ia merasa memori hanya menghancurkan apa yang ada di depan. Saya merasa membangun relasi seperti membangun Vietnam Memorial War, sehingga perlu seorang arsitek untuk membangunnya, kampret saya curhat.

Tak hanya karena alasan itu. Menurut saya seorang arsitek akan membuat hari-hari anda tak membosankan. “I believe that the way people live can be directed a little by architecture,” kata Tadao Ando. Saya setuju dengannya. Membayangkan mengitari kota dan perkampungan sambil melihat rumah-rumah di dalamnya serta membincangkan pola masyarakat yang hidup di situ. Ah itu menurut saya sangat romantis. “Sayang, kenapa ya mulai banyak rumah di desa itu yang dipagar?”. “Iya ya, padahal di cluster sistem pagar justru ditinggalin, yang punya duit justru pingin merakyat, aneh ya?”. Katakan saya aneh, tapi perbincangan itu menurut saya romantis. Dan itu hanya bisa terjadi dengan orang yang senang arsitektur. Satu lagi, arsitek biasanya tulisannya ciamik, Romo Mangun sampai Avianti Armand membuktikannya. Oke saya naïf, kalau anda tak tahan silakan tutup halaman ini.

Everton. Kenapa Everton? Kenapa bukan Chelsea atau para penganut YNWA? Alasannya sedikit tidak nyambung namun nyambung, oke ada kontradiksi di sini, mari saya jelaskan. Saya tak suka orang yang selalu disorot lampu, saya suka sidekick. MU, Liverpool, Arsenal, atau Chelsea selalu disorot lampu. Saya tak suka calon istri seperti itu. Buat saya klub sidekick selalu menarik. Jauh dari sorotan lampu tapi punya sesuatu yang membuat kita jatuh cinta. Everton, Villa, ataupun La Coruna misalnya. Secara pribadi saya pendukung Lazio serta Spurs era Anderton dan Ginola. Namun saya menganggap seksi orang yang mengidolai Everton, jadi saya suka orang yang suka Everton, bukan Everton-nya.

Fakta juga membuktikan orang yang mengidolai klub sidekick biasanya punya karya yang tidak biasa. Ugo Melbi adalah seorang penggemar Everton, Risky Summerbee seorang maniak Aston Villa, tukang burger langganan saya dulu mencintai La Coruna era Tristan setengah mati. Coba bayangkan perbincangan ini, “Jelek, nobar dimana kita?” “Enggak tahu nih, kafe asoy dipake nobar MU, kafe cihuy dipake nobar Liverpool, kita muter-muter dulu aja cari tempat nobar.” Lalu kami berdua berputar mengendarai Supra X (oke bagian Supra X tidak romantis) keliling kota. Dan akhirnya tiba di sebuah kafe “indie bal-balan” yang menyiarkan Everton, hanya ada segelintir orang di sana. Kami menyalami mereka dan berjanji akan kembali nonton di saat Everton kembali main entah di kafe mana. Menurut saya itu romantis, aneh ya saya? Biarlah yang penting calon istri saya kelak seorang sidekick.

Kadir Doyok. Kenapa Kadir Doyok? Kenapa bukan Harold and Kumar? Jawabannya karena Kadir Doyok membumi, sangat membumi. Buat saya wanita yang paham logika lawakan Kadir Doyok itu keren. Sebab logika lawakan mereka sangat sederhana. Memahami lawakan mereka berarti wanita ini simpel dan tidak neko-neko. “Wah mas bohongin saya nih katanya radionya merk Sony, ini kok kata penyiarnya Radio Republik Indonesia,” protes seorang buta pada Kadir. Lalu Kadir menyorongkan mik dan bilang, “Selamat datang di Radio Republik Sony!” Itu lawakan yang sangat epic menurut saya. Sederhana dan butuh logika rakyat untuk memahaminya.

Bukannya anti stand up comedy tapi otak saya tidak sampai dengan lawakan stand up comedy. Lagipula biasanya stand up yang paham hanya kelas menengah. Saya mau sih jadi kelas menengah tapi duitnya yang tidak cukup. Wanita penyuka Kadir Doyok berarti punya pemahaman akar rumput yang bagus. Tahu bagaimana berhadapan di segala medan. Coba cek perbincangan ini misalnya. “Eh mau jalan-jalan nih, kemana ya asyiknya?” “Lagi gak ada duit nih, nyari VCD Kadir Doyok aja yuk di Kampung Melayu, pulangnya makan di nasi goreng depan Apotik Jatinegara.” Nah itu juga romantis menurut saya. Pokoknya apapun yang random bagi saya romantis lah. Dari Kadir Doyok turun ke hati.

Oke saya yakin anda sudah menutup halaman ini, tak apalah saya bermonolog sendiri. Saya juga orang normal yang percaya tiga kriteria ini dalam satu sosok perempuan sebenarnya mustahil. Maka dari itu saya hanya iseng menuliskan calon istri idaman versi saya. Intisarinya sih saya mau calon istri saya orang yang simpel dan suka Tamiya 4WD, loh tambah kriteria lagi malahan. Sudahlah lupakan saja racauan saya ini.

*Postingan ini ditujukan untuk Cucum dan Ocha yang menantang saya menuliskan calon istri idaman. Saya sudah menjawab tantangan kalian. Utang saya lunas Nak, camkan itu!